Wasiat dan Nasihat sang cahaya Tarim Masa Kini
Wasiat dan Nasihat Habib Umar Bin
Muhammad Bin Salim Bin Hafidz
1.
Penuhilah hatimu dengan kecintaan
terhadap saudaramu, niscaya akan menyempurnakan kekuranganmu dan mengangkat
derajatmu di sisi Allah[10]
2.
Barang siapa semakin mengenal
kepada Allah niscaya akan semakin takut kepada-Nya.[10]
3.
Barang siapa yang tidak mau duduk
dengan orang-orang yang beruntung, bagaimana mungkin ia akan menjadi orang yang
beruntung. Dan barangsiapa yang duduk dengan orang-orang yang beruntung,
bagaimana mungkin ia tidak akan menjadi orang yang beruntung.[10]
4.
Barang siapa menjadikan
kematiaannya sebagai pertemuan dengan Sang Kekasih (Yaitu Allah swt dan
Rasul-Nya), maka kematian itu merupakan hari raya baginya.[10]
5.
Barang siapa percaya dan yakin
pada risalah diutusnya Nabi Muhammad saw, maka ia akan mengabdi dan menannggung
sabar karenanya. Dan barang siapa percaya yang membenarkan risalah kerasulan
Muhammad saw, maka ia akan mengorbankan harta dan jiwa untuknya.[10][11]
6.
Kedekatan seseorang dengan para
nabi di hari kiamat menurut kadar perhatiannya terhadap dakwah saat orang
tersebut berada di alam dunia.[11]
7.
Betapa anehnya penduduk bumi ini,
semua yang berada di bumi ini adalah pelajaran, namun mengapa mereka tidak mau
belajar darinya. Kukira tidak ada sejengkal tanahpun di muka bumi, kecuali di
situ ada ibrah (pelajaran) bagi orang yang berakal apabila mau mempelajarinya.[11]
8.
Sebaik-baik nafsu adalah yang
dilawan dan seburuk-buruk nafsu adalah yang diikuti.[11]
9.
Tanpa menahan hawa nafsu maka
manusia sama sekali tidak akan sampai pada Tuhannya. Ketahuilah bahwa kedekatan
manusia terhadap Allah swt menurut kadar kebersihan jiwanya.[11]
10.
Jikalau sebuah hati telah
terbuka, maka ia akan mendapatkan apa yang diinginkannya.[12]
11.
Barang siapa yang mempunyai
samudra ilmu, kemudian kejatuhan setetes hawa nafsu, maka hawa nafsu itu akan
merusak samudra tersebut.[12]
12.
Sesaat dari saat-saat khidmat
(pengabdian), lebih baik daripada melihat Arsy(singgasana Allah swt) dan
seisinya seribu kali.[12]
13.
Menyatunya seorang murid dengan
gurunya, merupakan permulaan di dalam menyatunya dengan Rasulullah SAW.
Sedangkan menyatunya dengan Rasulullah SAW, merupakan permulaan untuk lupa
kepada yang selain Allah swt[12]
14.
Manusia di setiap waktu senantiasa
terdiri dari dua golongan. Golongan pertama adalah, golongan yang diwajahnya
terdapat tanda-tanda dari bekas sujud. Sedangkan golongan kedua adalah,
golongan yang di wajahnya terdapat tanda-tanda dari bekas keingkaran.[12][13]
15.
Barang siapa yang menuntut
keluhuran, maka tidak akan peduli terhadap pengorbanan.[13]
16.
Sesungguhnya di dalam sujud
terdapat hakikat, yang mana apabila cahanya turun pada hati seorang hamba, maka
hati tersebut akan sujud selama-lamanya dan tidak akan mengangkat kepala dari
sujudnya.[13]
17.
Yang wajib bagi kita yaitu harus
menjadi da’i(menyampaikan apa yang kita ketahui) dan tidak harus menjadi
qodli(hakim/orang yang memutuskan suatu perkara dalam agama) ataupun mufti
(orang yang memberikan fatwa)[13]
18.
Arti dakwah adalah memindahkan
manusia dari kejelekan menuju kebaikan, dari kelalaian menuju ingat kepada
Allah swt dan dari keberpalingan kembali menuju Allah swt, serta dari sifat
yang buruk menuju sifat yang baik[13]
19.
Syetan itu mencari
sahabat-sahabatnya dan Allah pula yang menjaga kekasih-kekasih-Nya.[14]
20.
Apabila semakin agung nilai
ibadah dalam hati seseorang maka ringanlah semua kebiasaan baginya dan akan
keluar keagungan kebiasaan dari dirinya.[14]
21.
Apabila benar keluarnya seseorang
di dalam berdakwah, maka ia akan naik ke derajat yang tinggi.[14]
22.
Keluarkanlah rasa takut kepada
makhluk dari dalam hatimu, niscaya engkau akan tenang dengan rasa takut kepada
Sang Khaliq (Allah swt yang Maha Pencipta). Dan keluarkanlah rasa berharap pada
makhluk dari dalam hatimu maka engkau akan merasakan kenikmatan dengan hanya
berharap pada Sang Khaliq.[14]
23.
Banyak bergurau dan bercanda
merupakan pertanda sepinya hati dari mengagungkan Allah swt dan merupakan
tanda-tanda dari lemahnya keimanan seseorang.[14]
24.
Hakikat tauhid adalah membaca Al
Qur’an dengan merenungi artinya(Tadabbur) dan bangun diwaktu malam(untuk
mengisi kemuliaan diwaktu malam dengan berbagai ibadah yang mendatangkan
keridhaan Allah swt).[15]
25.
Tidak akan naik pada derajat yang
tinggi kecuali dengan himmah (cita-cita yang kuat).[15]
26.
Barang siapa memperhatikan waktu,
maka ia akan selamat dari murka Allah.[15]
27.
Salah satu dari penyebab turunnya
bencana dan musibah adalah sedikitnya orang yang menangis dalam keheningan
malam.[15]
28.
Orang yang selalu mempunyai
hubungan dengan Allah swt, maka Allah swt akan memenuhi hatinya dengan
rahmat-Nya di setiap waktu.[15]
29.
Janganlah urusan dunia kita
mengalahkan urusan akhirat kita.[16]
30.
Carilah dunia sebanyak mungkin,
namun janganlah urusan duniamu mengalahkan urusan akhiratmu.[16]
31.
Selalulah bersyukur kepada segala
pemberian Allah, baik yang besar maupun yang kecil. Contoh yang telah diajarkan
Rasulullah SAW. Seperti menjilati tangan sehabis makan adalah salah satu bentuk
perwujudan syukur kita kepada Allah swt.[16]
32.
Tidak menyisakan nasi dalam
piring bidangan kita juga merupakan bentuk rasa syukur kita, mengambil sebutir
nasi yang terjatuh dari piring kita untuk dimakan adalah juga suatu bentuk
perwujudan syukur kita kepada Allah swt.[16]
33.
Kita harus bersyukur walau hanya
dapat makan dengan nasi putih saja. Karena Allah swt telah berfirman:
"Barangsiapa bersyukur atas nikmat-Ku, maka Aku akan tambahkan nikmat
kepadanya"(QS.Ibrahim-14:7). Wahai para hadirin, kata"Aku"
disini adalah Allah, jadi Allah sendiri yang akan menambahkan dan memberi
tambahan nikmat-Nya atas orang yang mau bersyukur.""[16]
34.
Sungguh agung dan suci
anugrah-Nya. Dikatakan bahwa barangsiapa yang taat dan patuh kepada Allah, maka
memerintahkan dunia untuk tunduk dan mendatanginya serta melayani hamba-Nya
itu.[17]
Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Umar_bin_Hafidz
Waa masyaAllah,trimss infonyaaa
BalasHapus