Total Plate Count (2)


Assalamualaikum Wr Wb.

Selamat Datang kembali ke blog sederhana saya dan terima kasih masih suka mampir ke blog saya ini J, bagaimana kabar kalian semua sahabatku ? semoga dalam keadaan baik sehat wal afiyat InsyaAllah dan semoga kebaikan dunia akhirat selalu tercurah kepada kalian semua AAMIIN, oke sekarang saya akan mempost kembali tentang “Total Plate Count (2)” dan kalian simak saja dibawah ini J.

Pemeriksaan Angka kuman pada sop buah menggunakan metode hitungan cawan. Metode ini didasarkan pada anggapan bahwa setiap sel yang dapat hidup akan berkembang menjadi suatu koloni. Jumlah koloni yang muncul pada cawan merupakan suatu indeks jumlah mikroba yang hidup terkandung dalam sampel (Waluyo, 2008)
       Prinsip dari metode hitungan cawan adalah  bila sel mikroba yang masih hidup ditumbuhkan pada medium, maka mikroba tersebut akan berkembang biak dan membentuk koloni yang dapat dilihat langsung dan kemudian dihitung tanpa menggunakan mikroskop (Waluyo, 2008).
Kelebihan dalam menggunakan metode hitungan cawan :
Hanya sel mikroba yang hidup yang dapat dihitung.
Beberapa jasad renik dapat dihitung sekaligus.
Dapat digunakan untuk isolasi dan identifikasi mikroba, karena koloni yang terbentuk mungkin berasal dari mikroba yang mempunyai penampakan spesifik (Waluyo, 2008).
Kelemahan metode hitungan cawan  :
Hasil perhitungan tidak menunjukkan jumlah sel yang sebenarnya karena beberapa sel yang berdekatan mungkin membentuk satu koloni.
Medium dan kondisi inkubasi yang berbeda mungkin menghasilkan jumlah yang berbeda pula.
Mikroba yang ditumbuhkan harus dapat tumbuh pada medium padat dan membentuk koloni yang kompak, jelas, tidak menyebar.
Memerlukan persiapan dan waktu inkubasi relatif lama sehingga pertumbuhan koloni dapat dihitung (Waluyo, 2008).
Metode hitungan cawan dibedakan atas dua cara, yaitu :
1. Metode Tuang/Penuangan (Pour Plate)
Pada metode tuang, sejumlah sampel (1 ml atau 0,1 ml) dari pengenceran yang dikehendaki dimasukkan ke dalam cawan petri, kemudian ditambah agar-agar cair steril yang telah didinginkan (47-50ºC) sebanyak 15-20 ml dan digoyangkan supaya sampelnya menyebar, kemudian didiamkan hingga agar membeku. Larutan yang digunakan untuk pengenceran dapat berupa larutan buffer fosfat, 0,85% NaCl atau larutan Ringer.
2. Metode Sebar/Permukaan (Surface/Spread Plate)
Mengencerkan 3 tabung PCA (Plate Count Agar) dalam air mendidih.
Mendinginkan agar dalam penangas air (50ºC) selama 5-10 menit.
Menuangkan agar ke cawan petri dan membiarkan membeku(10 – 15 menit), menandai cawan dengan kode dan tingkat pengenceran.
Membuat pengenceran dari sampel dari kecil sampai besar.
Menggunakan alat penyebar untuk meratakan suspensi di atas permukaan lempengan agar.
Cawan petri dibalik dan dimasukkan almari pengeram dengan suhu tertentu selama 24 - 48 jam(Waluyo, 2008)
Perhitungan koloni dilakukan setelah masa inkubasi TPC pada inkubator 37ºC selama 24 - 48 jam dengan ketentuan :
Idealnya jumlah koloni per cawan petri yang boleh dihitung antara 30 – 300 cfu (colony form unit).
Koloni besar, kecil, menjalar dianggap berasal dari 1 bakteri.
Perhitungan dapat dilakukan secara manual dengan memberi tanda titik dengan spidol pada cawan petri bagi koloni yang sudah dihitung, dapat pula digunakan colony counter.
Tiap-tiap cawan petri dari pengenceran berbeda dihitung jumlah koloninya.
Dengan mengkalikan pengencerannya akan diperoleh angka kuman per sel sampel yang diperiksa (Soemarno, 2000).
Total Plate Count (TPC) merupakan cara penghitungan jumlah mikroba yang terdapat dalam suatu produk yang tumbuh pada media agar pada suhu dan waktu inkubasi yang ditetapkan. Prinsip dari TPC adalah menunjukkan jumlah mikroba yang terdapat dalam suatu produk dengan cara menghitung koloni bakteri yang ditumbuhkan pada media agar (BSN 2008). Metode ini juga memungkinkan untuk mengetahui jenis mikroba yang tumbuh dengan melakukan isolasi dan identifikasi jenis koloni mikroba tersebut. Teknik pengenceran sangat penting dikuasai dalam pengujian TPC. Pengenceran bertujuan untuk mengurangi jumlah mikroba dalam sampel, sehingga terbentuk koloni terpisah dan dapat dilakukan penghitungan dengan tepat (Wiguna 2015).
“Bakteri indikator yang digunakan dalam pengujian TPC oleh laboratorium BBKP Tanjung Priok adalah Salmonella sp. dan Escherichia coli” keterangan drh Novera Nirmalasanti.  Berdasarkan Standar Nasional Indonesia 7388:2009 tentang batas maksimum cemaran mikroba dalam pangan, diketahu bahwa batas maksimum cemaran Eschericia coli pada daging beku adalah 1 x 101/g, sedangkan batas maksimum cemaran Salmonella sp. pada daging beku negative/25 g. (SNI 2009)
Kualitas daging dipengaruhi beberapa factor, seperti faktor genetik, spesies, bangsa, tipe ternak, jenis kelamin, umur, pakan, termasuk aditif, dan stress, serta faktor setelah pemotongan seperti pelayuan, pembersihan sampai dengan pemasakan. Pertumbuhan mikroba dalam bahan pangan dapat mengakibatkan perubahan fisik atau kimia yang tidak diinginkan, sehingga bahan pangan tersebut tidak layak dikonsumsi. Makanan yang telah tercemar mikroba dapat menjadi sumber penyebaran penyakit. Kontaminasi mikroba juga dapat menimbulkan perubahan kualitas pada daging, baik kualitas fisik maupun kimiawi (Sulistio 2012).

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sop Buah

Wasiat dan Nasihat sang cahaya Tarim Masa Kini